Showing posts with label Inspirasi - Binatang. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi - Binatang. Show all posts

Sunday, January 9, 2011

Christian the lion

In 1969 a young Australian, John Rendall and his friend Ace Bourke, bought a small lion cub from Harrods pet department, which was then legal. 'Christian' was kept in the basement of a furniture shop on the Kings Road in Chelsea, the heart of the swinging sixties. Loved by all, the affectionate cub ate in a local restaurant, played in a nearby graveyard, but was growing fast...

A chance encounter with Bill Travers and Virginia McKenna led to a new life for Christian. He came to live in a huge enclosure and to sleep in a caravan at their Surrey home. Then in 1971 he was flown to Kenya, his ancestral home, and returned to the wild by lion-man George Adamson. Nine months later in 1972, John and Ace returned to Kora in Kenya. This clip is of their reunion at that time.

It was an emotional reunion: "He ran towards us, threw himself onto us, knocked us over and hugged us, with his paws on our shoulders."

John Rendall

Christian's story. Directed by Bill Travers, commentary by Virgina McKenna, founders of the Born Free Foundation.

See http://www.bornfree.org.uk for more about this story.

Christian the Lion is distributed by Beckmann Visual Publishing

Bangunkan raksasa di dalam diri anda

Bahkan sebagai bayi gajah sekalipun, Bulig sangat besar.
Ketika Bulig bertumbuh dewasa, ia lebih tinggi dan lebih besar dari semua teman-teman sepermainannya.

Tidak perlu waktu lama hingga gajah lain merasa takut padanya. Dan Bulig mengetahui hal ini.
Karena itu ia menggunakan ukurannya untuk menakuti yang lain untuk melakukan apa yang ia ingin mereka lakukan.

Ia akan mendengus dan menggeram sambil berkata, "Aku akan remukkan kamu!"
Itu merupakan salam yang biasa ia katakan pada siapapun yang
ia jumpai di jalan. Kenyataannya, jika gajah-gajah lain merasa takut pada Bulig, binatang-binatang kecil lainnya juga demikian.

Para monyet, kijang, harimau, dan bahkan singa pun terkagum-kagum terhadap binatang yang sangat besar itu.
Para gajah memberinya sebuah rumah istimewa di puncak sebuah bukit kecil. Dan tahta Bulig adalah sebuah ranjang berukuran raksasa. Di situlah ia berbaring dan memerintah seluruh hutan.
Setiap pagi, para gajah akan memberinya sekeranjang pisang. Dan para monyet akan memberinya sekeranjang apel. Dan kijang akan memberinya sekeranjang kacang. Hal ini terjadi setiap hari.

Karena itu Bulig bertumbuh semakin besar. Dan semakin ia bertumbuh, semakin takutlah binatang-binatang terhadapnya.
Ia sekarang menjadi sesosok dewa bagi seluruh binatang di sana.
Sekelompok burung undan bergantian mengipasinya.
Sekelompok burung parkit bernyanyi baginya setiap pagi.
Sekelompok kera berakrobat sebagai hiburan malam baginya.
Untuk waktu yang sangat lama, Bulig jarang meninggalkan rumahnya.

Sebenarnya, selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak pernah berdiri dari ranjang raksasanya.
Yang ia lakukan hanyalah mendengus dan menggeram sesekali waktu, "Aku akan remukkan kamu!" Dan setiap kali ia mengatakan itu, semua binatang akan sangat ketakutan.
Karena ia tidak banyak bergerak, ia menjadi segemuk seperti sepuluh gajah yang dijadikan satu!

Sekarang, bahkan binatang-binatang lain dari hutan-hutan lain pun datang berkunjung untuk melihat dengan mata kepala sendiri kalau Legenda Gajah Raksasa itu benar adanya. Dan mereka semua akan berdiri ketakutan melihat makhluk yang sangat besar itu.

Salah satu binatang itu adalah seekor kura-kura kecil bernama Pokito.
Pokita mendengar tentang gajah ini dan ingin melihatnya.
Sebagai seekor kura-kura muda dan senang bermain, ia berpikir akan
luar biasa sekali jika dapat berteman dengan gajah raksasa itu.

Maka suatu hari, ia menghampiri Bulig yang tampak seperti sebuah gunung dibanding dirinya. Tapi Pokito tidak takut.
Ia berkata, "Hi Bulig besar! Bolehkah aku menjadi temanmu?"
Semua binatang di sekitar Bulig menahan nafas dengan tegang. Siapa yang berani berbicara seperti itu pada Bulig? Apakah ia sadar apa yang sedang dikatakannya? Kura-kura malang!
Bulig merasa terhina karena seekor makhluk kecil itu tidak menyembahnya sebagai dewa. Maka ia mendengus dan menggeram seperti biasanya dan berkata, "Aku akan remukkan kamu!"

Namun Pokito adalah seekor kura-kura bijak. Ia melihat ada kelemahan besar di balik ukuran tubuh Bulig. Ia kasihan padanya. Karena itu ia hanya berkata, "Bulig, aku hanya ingin menjadi temanmu. Jika engkau tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan tetap gembira…" Ketika ia membalikkan badan, Bulig bahkan menjadi lebih marah dan mendengus dan menggeram lagi dan berkata dengan suara yang lebih keras, "AKU AKAN REMUKKAN KAMU!"

Semua binatang lari terbirit-birit ke belakang semak-semak, batu-batu, dan pohon-pohon. Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar Bulig marah sedemikian rupa.
Pokito membalikkan badan menghadap raksasa itu lagi dan berkata dengan tenang, "Bulig, aku tidak akan melakukan itu kalau aku jadi dirimu. Engkau akan menyakiti dirimu sendiri…"
Wajah Bulig merah padam seperti sebuah mobil pemadam kebakaran.
Ia berdiri. Atau paling tidak ia berusaha.
Ingat, sudah bertahun-tahun sejak ia terakhir kali berdiri!
"Ummph… Ummmph…. Ummmmmmmmmph!" Berkali-kali Bulig mencoba namun ia tak dapat berdiri!

"Bulig, jangan lakukan itu…," kata Pokito.
Semua binatang keluar dari persembunyian mereka. Mereka sangat terkejut melihat dewa mereka mengalami kesulitan untuk berdiri!
Akhirnya, kaki Bulig tertekuk dan ia jatuh ke tanah. Whaaam!
Sekarang Bulig kesakitan, tapi penghinaan yang dialaminya jauh lebih besar dari sakit fisik yang ia alami saat itu.

Pertama, seekor monyet kecil mulai mengejek.
Tak lama, monyet-monyet lain melakukan hal yang sama.
Dan setelah beberapa saat, semua binatang mulai mempermalukan Bulig.
Mereka mencemooh dan memberinya julukan. "Makhluk lemah!", "Si gendut!", dan "Gudang lemak!"
Tiba-tiba Pokito berteriak, "Hentikaaaaaaaaaaan!"
Semuanya berdiam diri di hadapan kura-kura pemberani ini.
"Selama bertahun-tahun, kalian menyembah Bulig sebagai dewa," kata Pokito, "tapi sekarang, kalian menghinanya seperti musuh. Mengapa kalian lakukan itu? Bulig hanyalah salah satu dari kita, sama seperti binatang lainnya."
Pokito berjalan mendekati Bulig yang tertunduk dan dipenuhi rasa malu serta berkata, "Apakah engkau butuh bantuan untuk berdiri?" Dengan perlahan, Bulig menganggukan kepalanya.

Kura-kura itu berbalik ke gajah-gajah lain, "Bantu temanmu berdiri."
Gajah-gajah lain takjub dengan kearifan kura-kura kecil ini. Mereka semua berdiri di samping raksasa itu, dan bersama-sama, mengangkatnya.
Dengan upaya yang keras, gajah raksasa itu berdiri.
Dengan lututnya yang masih gemetar, Bulig tersenyum kepada kura-kura itu dan berkata perlahan, "Terima kasih. Engkaulah raksasa sesungguhnya."
Pokito tersenyum. "Terima kasih."
Bulig bertanya, "Maukah engkau menjadi temanku?"
Kura-kura itu berkata, "Dengan satu syarat. Engkau harus jogging bersamaku setiap pagi." Ia berkedip.
Dan semua binatang tertawa serentak.


7 PELAJARAN TENTANG HIDUP

  1. Jangan mencari penyembah-penyembah;tetapi carilah sahabat-sahabat sejati.
    Tidak semua teman diciptakan sama. Beberapa teman hanyalah penggemar. Mereka mengagumi Anda. Mereka menyanjung Anda. Mereka takut terhadap Anda. Mereka mengambil keuntungan dari Anda. Namun ketika Anda membutuhkan mereka, mereka tidak ada. Pilihlah sahabat sejati daripada penggemar. Ketika Anda mengalami kesulitan, mereka akan tetap berada di sisi Anda.
  2. Cara terbaik untuk mencari seorang sahabat sejati adalah menjadi seorang sahabat sejati.
    Apakah Anda seorang sahabat sejati? Apakah Anda memberikan perhatian kepada orang lain? Apakah Anda menunjukkan kasih Anda terhadap mereka dengan cara yang tidak biasa? Investasi terbaik yang akan pernah Anda lakukan adalah dalam relasi Anda. Di situlah harta Anda berada.
  3. Penggertak itu lemah. Hindari atau tentanglah, namun jangan pernah takut terhadap penggertak.
    Apakah Anda punya penggertak dalam hidup Anda? Anda akan selalu berhadapan dengan para penggertak. Mereka mengintimidasi orang. Mereka ingin Anda merasa takut terhadap mereka. Mereka memanipulasi Anda untuk mengikuti mereka. Tergantung situasi, Anda dapat menghindari atau menentang mereka. Namun jangan pernah takut terhadap mereka. Karena semua penggertak adalah palsu. Dengan paksaan, mereka menutupi kelemahan yang ada di dalam diri mereka. Tapi jauh di dalam, seorang penggertak adalah seorang anak rapuh yang memiliki banyak ketakutan.
  4. Ketika seseorang tidak suka menjadi temanmu, biarkan saja dan tetaplah bersukacita.
    Hidup terlalu indah untuk disesali hanya karena penolakan seseorang. 'Orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain' ingin menyenangkan setiap orang. Dan ketika seseorang menolak mereka, mereka akan tewas. Karena mereka memerlukan perasaan dibutuhkan. Ketika seseorang menolak mereka, mereka sangat terluka – dan membawa luka ini ke manapun mereka pergi dan membiarkan luka ini berdampak bagi hidup mereka selamanya. Apa yang dilakukan seorang yang dewasa ketika mereka mengalami penolakan? Mereka juga terluka sama seperti orang lain namun mereka tidak membawa luka itu terus-menerus. Mereka mengebaskan debu di kaki mereka dan terus maju. Mereka mencintai diri mereka. Mereka mencintai hidup.
  5. Ketika seseorang marah terhadap Anda dengan cara yang tidak adil, kasihanilah orang itu.
    Ia akan menyakiti dirinya sendiri. Jangan mengasihani diri sendiri ketika Anda menerima kemarahan yang tidak adil. Ingatlah bahwa kemarahan yang tidak adil itu menghancurkan orang yang marah, bukan Anda. Kasihanilah orang itu.
  6. Selalu bersikap baik dan ramah kepada setiap orang entah dia itu seorang raja atau seorang pengemis.
    Setiap manusia yang Anda temui dalam hidup adalah anak-anak Tuhan. Entah ia duduk di atas tahta atau terbaring di lumpur, tak ada bedanya. Orang tersebut adalah keluarga Anda.
  7. Takaran Anda yang sesungguhnya diukur dari keberanian, kearifan, dan cinta Anda.
    Apakah Anda seorang yang besar? Ukurlah keberanian dan kearifan Anda. Dengan cara Anda mengasihi, Anda bisa tahu apakah Anda sudah dewasa dalam hidup atau tidak.

Sunday, August 22, 2010

Rumah Seribu Cermin

Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin."

Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.

Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat.

Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."

Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu.

Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi."

Untuk Direnungkan :
Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang anda jumpai?

Thoughtful Story

Seekor tikus mengintip lewat sebuah celah ditembok untuk mengamati sang petani dan istrinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan apa kiranya? Ia terkejut sekali, ternyata itu jebakan tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu memproklamasikan peringatan; "Awas, ada jebakan tikus didalam rumah, awaslah, ada jebakan tikus didalam rumah!"

Sang ayam tenang2 berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, pak Tikus, aku tahu ini memang urusan gawat bagi anda, tapi kan buat aku pribadi tak ada konsekwensinya. Jangan bikin aku pusinglah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang babi, katanya, "Ada jebakan tikus didalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!" "Wah, aku menyesal dengar kabar ini," si babi menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu ada dalam doa2ku!"

Tikus kemudian berbelok menuju si sapi. Sapi inipun berujar, "Seperti apa ya, pak Tikus. Sebuah jebakan tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?"

Jadi tikus itu kembalilah kerumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, menghadapi jebakan tikus sendiri.

Malam itu juga terdengar sebuah suara menggema diseluruh rumah, seperti bunyi jebakan tikus yang berhasil menangkap korbannya. Istri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Dikegelapan itu ia tak bisa melihat bahwa yang terjebak adalah ekor ular amat berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan istri petani itu.

Petani itu bergegas membawanya kerumah sakit. Ia kembali kerumah dengan demam. Sudah umum setiap orang akan menangani demam panas dengan memberikan sop ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah ia ke lahan belakang mencari bahan pokok untuk sopnya itu.

Penyakit istrinya berlanjut sehingga teman2 maupun para tetangganya datang duduk2 menjenguk, dari jam ke jam selalu berdatangan para tamu. Petani itupun menyembelih babinya untuk memberi makan para pengunjung itu. Istri petani itu tak kunjung sembuh. Ia mati, jadi makin banyak lagi orang2 yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menjagal sapinya agar bisa menjamu makan orang2 itu.

Moral kisah ini: Lain kali bila kau dengar ada seseorang yang menghadapi problem dan kau pikir itu tak berurusan denganmu, ingatlah bahwa apabila ada jebakan tikus didalam rumah, seluruh lahan pertanian ikut menanggung risikonya.

Wednesday, January 20, 2010

Kutu Anjing

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri.

Ia mulai berpikir, ?Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini.? Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, ?Nah benar kan? Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!?

Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.

Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.

Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, ?Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok.? Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.

Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.

Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api itu.

Kisah Kura-Kura & Kelinci

Untuk menggambarkan hebatnya team work, salah satu rekan saya mendongengkan kisah kehidupan dua binatang yakni kura-kura dan kelinci. Suatu ketika, kelinci mengajak balap lari dengan kura-kura. Pertandingan pun dimulai. Kelinci langsung memimpin jauh di depan kura-kura. Tiba-tiba kelinci menoleh ke belakang, dilihatnya kura-kura masih tertinggal jauh di belakang. Karena sudah merasa menang, kelinci berhenti berlari. Sang pemakan wortel ini malah duduk-duduk santai, tidur-tiduran dan akhirnya tertidur.

Pelan namun pasti kura-kura tetap berlari. Bahkan kura-kura mampu melewati sang kelinci yang sedang tertidur. Kura-kura pun menang dan mampu mengalahkan sang kelinci.

Merasa malu dirinya dikalahkan oleh kura-kura yang kemampuan larinya jauh lebih lambat, kelinci menangis. Kura-kura pun datang menghibur kelinci sambil berkata ? Lain kali kamu harus hati-hati dengan falsafah kehidupan kami, alon-alon asal klakon (pelan namun pasti)?

Kelinci menantang diadakannya pertandingan ulang. Kura-kura pun setuju. Begitu aba-aba start dimulai, kelinci langsung berlari sekencang-kencangnya. Kali ini, binatang bertelinga panjang itu mengerahkan semua kemampuannya dan fokus pada garis finis. Dia tidak lagi menoleh ke belakang dan duduk-duduk santai.Pertandingan ulang itupun dimenangkan kelinci. Kura-kura mengucapkan selamat kepada kelinci sambil mengatakan ?falsafah alon-alon asal klakon bisa dikalahkan dengan kesungguhan, semangat dan fokus pada tujuan akhir yang hendak dicapai.?

Wah kedudukan satu-satu ya? seru kura-kura. Untuk menentukan pemenangnya pertandingan di gelar kembali. Kali ini kura-kura meminta kepada kelinci agar kura-kura yang menentukan rute pertandingan. Merasa bahwa kemampuan larinya jauh lebih cepat dibandingkan kura-kura iapun menyetujui tawaran kura-kura itu.

Pertandingan dimulai. Sang kelinci langsung memimpin pertandingan. Namun di tengah perjalanan kelinci berhenti karena ternyata rute yang harus dilewati adalah sungai yang sangat lebar. Maka sampailah kura-kura di tepian sungai itu dan menyapa sang kelinci yang sedang gelisah ?maaf ya saya nyeberang duluan.? Dipertandingan ke tiga ini kura-kuralah yang menjadi pemenang. Untuk yang kedua kalinya kelinci menangis.

Kura-kura mendatangi kelinci. Sambil terisak kelinci berkata kepada kura-kura ? Ternyata kalau kita ingin memenangkan pertandingan kita harus bersaing sesuai dengan core competence kita ya.?

Untuk menghibur kelinci kura-kura kemudian memberikan tawaran kepada kelinci. ? Bagaimana kalau kita berlomba lagi. Kali ini, tidak ada yang kalah, semuanya menang. Caranya, ketika di darat kamu gendong saya. Ketika di sungai saya gendong kamu? kata kura-kura. Kelinci menyetujui tawaran kura-kura.

Ternyata di pertandingan ke empat ini, waktu tempuhnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya. Akhirnya, kedua binatang itu sepakat bahwa kerja sama antar core competence yang berbeda akan menghasilkan prestasi yang jauh lebih baik. Dan yang lebih penting lagi, tidak ada yang merasa dikalahkan.

Kerang Mutiara atau Kerang Rebus

Suatu saat, ketika saya sedang memancing ikan di rawa, Ayah saya datang dan kemudian duduk di samping saya. "Mil, bapak punya cerita tentang kerang mutiara dan kerang rebus, sambil mancing kamu dengarkan ya," kata bapak saya.

Sambil terus saya memancing, Ia bertutur, "Ketika kerang belia mencari makan dibukalah penutup badannya, ketika itu pasir masuk ke dalam tubuh kerang belia itu. Sang kerang menangis, "Bunda sakit bunda...sakit...ada pasir masuk ke dalam tubuhku." Sang Ibu menjawab, "Sabarlah anakku, jangan kau rasakan sakit itu, bila perlu berikan kebaikan kepada sang pasir yang telah menyakitimu."

Kerang beliapun menangis, namun air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini terus menerus ia lakukan. Rasa sakit itupun secara ber-angsur berkurang bahkan kemudian hilang. Ajaibnya, pasir yang membuat sakit tubuh kerang itu justru telah berubah menjadi butiran yang sangat cantik. Ya, pasir yang masuk ke dalam kerang belia itu telah berubah menjadi mutiara.

Ketika kerang itu dipanen dan kemudian dijual, maka kerang yang berisi sebutir pasir itu harganya mahal. Sementara kerang yang tak pernah merasakan sakitnya pasir dalam tubuhnya, ia menjadi kerang rebus yang dijual murah bahkan di obral di pinggir-pinggir jalan.
Setelah menarik napas panjang, ayah saya melanjutkan, "Kalau kamu tidak pernah mendapat cobaan dan merasakan rasa sakit, maka kamu akan menjadi kerang rebus atau orang murahan. Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberikan manfaat kepada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi mutiara."

"Anakku..., kerang rebus dijual obral di pinggir jalan sementara mutiara dijual mahal, diletakkan di tempat terhormat dan dikenakan oleh orang-orang yang terhormat. Hidup adalah pilihan wahai anakku... kamu bisa memilih hendak menjadi kerang mutiara atau kerang rebus, semua terserah kamu." Ayah saya kemudian bertanya, "Kamu memilih menjadi apa, mil?" Maka, segera saya jawab, "Saya ingin menjadi kerang mutiara pak!

Friday, December 25, 2009

Akibat Marah

Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah tahun 1986, saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting.

Bagaimana cara memancing Kepiting ?

Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting itu marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan ituada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.

Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan-nya dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH .

Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.

Sunday, September 7, 2008

Hikmah dari Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat.

Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.
Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.
Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. Dia merintih menyesali nasibnya.

Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi Si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia pasti akan mati tak bisa bernapas. Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.
Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia tersasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran :

  1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
  2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.
  3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
  4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
  5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.
Terjemahan bebas dari cerita rakyat: A Legend of a little sparrow.

5 C Seorang Penjual Yang Hebat

(RogerMagnet's, Success Adventures)

Para penjual yang hebat sebenarnya dikenal sebagai "closer" (orang yang berhasil menyelesaikan bisnis). Mereka tidak berbicara tentang melakukan transaksi, mereka MELAKUKAN transaksi, mereka membuat klien mereka memberikan tanda tangan, menyelesaikan transaksi pejualan.

Jika anda mengira bahwa anda bukanlah penjual, cobalah pertimbangkan lagi pikiran anda. Tindakan kecil untuk mencari pekerjaan baru atau menyuruh anak anda mengambil mainan mereka adalah tindakan penjual.

Rahasia untuk menjadi Closer yang hebat terletak pada kata itu sendiri. Ada lima kunci untuk menjadi Closer:

Confidence (Percaya Diri)
Berhentilah menggoyang-goyangkan sepatu anda (karena kita semua merasa tidak aman di dalam hati) dan tunjukkan rasa percaya diri yang tenang. Sedemikian banyaknya rasa ketidakamanan dalam dunia hari ini dan dengan sendirinya orang akan mendekat ke sisi anda jika anda tenang dan percaya diri.

Control
Anda adalah Produser dan sutradara film anda sendiri. Dengan mengontrol skenario, alur cerita, dan koreografi, anda akan menuntun klien anda melalui presentasi yang mulus dan membuat mereka merasa diperhatikan.

Compassion (Empati)
Menutup penjualan itu bukanlah soal menjejalkan produk atau jasa yang tidak diinginkan ke dalam tenggorokan klien anda. Ini soal mendengarkan, mengetahui, dan memahami. Kemampuan ini hanya akan datang saat anda memiliki empati atau simpati yang tulus untuk klien anda dan sepenuh hati melayani dia dengan sebaik mungkin.

Courage (Keberanian)
Berita baiknya adalah anda tidak sendirian dengan kegugupan setiap kali anda menghadapi seorang prospek, kita semua merasakannya. Tepuklah punggung anda untuk memupuk keberanian yang anda tunjukkan setiap hari saat anda keluar dan menghadapi hal-hal yang tidak anda ketahui. Anda membuat mimpi anda menjadi kenyataan secara proaktif sementara orang lain masih saja larut dalam impiannya.

Commitment
Setiap hari adalah tambang emas, kesempatan untuk membangun langkah selanjutnya menuju impian dan visi anda. Jika anda kehilangan satu hari karena "anda merasa tidak menyukainya", maka anda kehilangan satu langkah yang amat penting menuju impian anda. Tidak ada perbedaan antara hari hujan dan cerah, hanya ada satu langkah lagi yang akan membawa anda lebih dekat ke kemenangan anda.

Periksalah sistem anda setiap hari dengan mengacu pada 5 C, tepuklah punggung anda dan terapkan sistem itu setiap hari karena jika anda hidup tanpa sistem itu anda akan menjadi c-LOSER (pecundang-c).

"Sangat sedikit orang yang dilahirkan sebagai orang jenius yang berbakat! Namun sukses dapat datang dengan cara menerapkan aturan-aturan sederhana secara terus menerus".

Saturday, September 6, 2008

Visi Seekor Siput

Di suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu melihat sang siput dengan pandangan aneh.

"Hei, siput tolol," salah seekor dari mereka mencibir, "pikirmu kemana kamu akan pergi?".

"Mengapa kamu memanjat pohon itu?" berkata yang lain,
"Di atas sana tidak ada buah ceri."

"Pada saat saya tiba di atas," kata si siput, "Pohon cerinya akan berbuah."

Wednesday, August 27, 2008

Belajar dari Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur.
Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup – karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai.
Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam.
Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.
Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu

Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik.
Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah

Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama.

GUNCANGKANLAH !!!!

"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !"